Dalil2 utama AlQuran & As Sunnah

A) Agama Islam telah sempurna:

...الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا...

"Pada hari ini, Aku telah sempurnakan bagi kamu agama kamu, dan Aku telah cukupkan nikmat-Ku kepada kamu, dan Aku telah redakan Islam itu menjadi agama untuk kamu." (Al-Ma'idah 5:3)

Konteks Ayat: Ayat ini diturunkan di Padang Arafah, semasa Haji Wada', tahun 10 hijrah menandakan tiada lagi tambahan dalam syariat halal dan haram. Menunjukkan Islam tidak memerlukan tambahan atau pengurangan dalam perkara akidah dan ibadah.

Makna Kesempurnaan:
• Agama yang Lengkap: Islam merangkumi seluruh aspek kehidupan manusia, baik duniawi mahupun ukhrawi.
• Kesesuaian Zaman: Syariat Islam berlaku untuk semua manusia, di semua tempat, dan segala zaman.
• Larangan Bid'ah: Kerana agama sudah sempurna, sebarang rekaan ibadah baru (bid'ah) adalah ditolak.
• Hadis Berkaitan: Rasulullah SAW bersabda, "Aku tinggalkan dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selamanya selama berpegang teguh kepada keduanya, iaitu Kitabullah (Al-Quran) dan Sunnahku".

Kesimpulannya, Islam adalah agama yang sempurna dan mencukupi, di mana Allah tidak menerima agama selain daripada Islam.

B) Tujuan utama manusia diciptakan:
Adalah untuk beribadah dan mengabdikan diri semata-mata kepada Allah SWT, serta memikul amanah sebagai khalifah (pengelola) di muka bumi.

a) Beribadah Kepada Allah (Tujuan Utama)

Dalil: "Dan (ingatlah) Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk mereka menyembah dan beribadat kepada-Ku."
(Adz-Dzariyat 51:56 ).
Tafsir: Ibadah di sini merangkumi ketaatan total, mengesakan Allah (tauhid), dan mengenal-Nya.

b) Menjadi Khalifah (pengelola) di Bumi

Dalil: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." (Al-Baqarah 2:30).
Tafsir: Manusia diamanahkan untuk mengurus, mentadbir, dan memakmurkan bumi dengan syariat Allah.

c) Ujian Kehidupan

Dalil: "Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya." (Al-Mulk 67: 2).

d) Mengenal Kekuasaan Allah

Dalil: "Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahawasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu..." (At-Talaq 65: 12).

Kesimpulannya, kehidupan manusia bukan satu kebetulan atau permainan, melainkan amanah untuk beribadah dan membangun bumi.

C) Manhaj Salafus Shalih:

Kewajiban mengikuti pemahaman dan amalan generasi awal Islam untuk mencapai kebenaran yakni Manhaj/Jalan Salafus Shalih (para sahabat, tabi'in, dan tabi'ut tabi'in):

Dalil Al Quran:
a) Perintah mengikuti jalan Sahabat (Muhajirin & Anshar):

"...dan orang-orang yang terdahulu yang mula-mula (berhijrah dan memberi bantuan) daripada orang-orang Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida akan mereka dan mereka rida akan Dia..." (At-Taubah 9:100).

b) Perintah mengikuti jalan orang beriman (Sahabat):

"Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin (Sahabat), Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam..."
(An-Nisa 4:115).

c) Perintah mengikuti jalan yang kembali kepada Allah:

"...dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku..." (Luqman 31:15).

Dalil Hadis:
a) Tiga Generasi Terbaik:
"Sebaik-baik manusia adalah kurunku (Sahabat), kemudian orang-orang yang setelahnya (Tabi'in), lalu orang-orang yang sesudahnya (Tabi'ut Tabi'in)." (HR. Bukhari & Muslim).

b) Kewajiban berpegang pada Sunnah dan Khulafaur Rasyidin:
"Barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku, maka dia akan melihat banyak perselisihan. Oleh sebab itu, wajib atas kalian untuk mengikuti sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang berpetunjuk. Gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham kalian..." (HR. Abu Dawud & Tirmidzi).

c) Golongan yang Selamat:
Nabi SAW bersabda mengenai golongan yang selamat ialah mereka yang mengikuti: "...apa yang aku berada di atasnya hari ini dan juga para sahabatku." (HR. Tirmidzi).

Perkataan Ulama Salaf:
a) Imam Malik bin Anas (wafat 179 H):

"Tidak akan memperbaiki generasi akhir umat ini melainkan apa yang telah memperbaiki generasi awalnya (iaitu mengikuti jalan Salaf).".

b) Ibnu Mas'ud RA:
"Hendaklah kalian mengikuti dan janganlah kalian membuat sesuatu yang baru (bid'ah), kerana sungguh kalian sudah dicukupi (oleh ajaran Salaf).".

Mengikuti manhaj/jalan Salafus Shalih adalah dengan mencontohi akidah, ibadah, dan akhlak mereka sebagaimana yang difahami dan diamalkan oleh para sahabat Rasulullah SAW. Hanya ini jalan selamat.

D) Rukun Iman yang enam :
"Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, melainkan kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab suci, dan nabi-nabi"....
(Al-Baqarah 2:177)

"إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ"

"Sesungguhnya Kami menciptakan tiap-tiap sesuatu menurut takdir (yang telah ditentukan)." (Al-Qamar 54:49)

• Intipati: Allah menegaskan kekuasaan-Nya mencipta alam semesta bukan secara kebetulan, sebaliknya dengan hikmah dan kadar yang telah ditentukan.
• Tafsir Ringkas: Setiap makhluk mempunyai ajal, rezeki, dan takdir yang tertentu yang telah dicatat sebelum ia berlaku (Qada & Qadar).

Rukun Iman:
• Iman kepada Allah SWT: Meyakini kewujudan Rububiyah, Uluhiyyah, dan sifat-sifat Allah.
• Iman kepada Malaikat: Percaya wujudnya malaikat sebagai makhluk Allah.
• Iman kepada Kitab: Meyakini kitab-kitab Allah (Taurat, Zabur, Injil, Al-Quran).
• Iman kepada Rasul: Percaya utusan Allah menyampaikan ajaran.
• Iman kepada Hari Akhir: Yakin adanya kiamat dan pembalasan.
• Iman kepada Qada' dan Qadar: Percaya ketentuan baik dan buruk daripada Allah.

E) Tauhid Rububiyah:

Keyakinan bahawa Allah adalah satu-satunya Pencipta, Pemilik, dan Pengatur alam semesta.

"Katakanlah (wahai Muhammad): 'Siapakah yang memberi rezeki kepada kamu dari langit dan bumi? Atau siapakah yang menguasai pendengaran dan penglihatan? Dan siapakah yang mengeluarkan makhluk yang hidup dari benda yang mati, dan mengeluarkan benda yang mati dari makhluk yang hidup? Dan siapakah pula yang mentadbirkan urusan alam?'. Maka mereka (orang-orang musyrik) akan menjawab: 'Allah'. Katakanlah: 'Mengapa kamu tidak mahu bertaqwa?'". (Yunus 10: 31)

"Dan sesungguhnya jika engkau (wahai Muhammad) bertanya kepada mereka (yang musyrik) itu: 'Siapakah yang menciptakan langit dan bumi, dan yang memudahkan matahari dan bulan (untuk faedah makhluk-makhluk-Nya)?' Sudah tentu mereka akan menjawab: 'Allah'. Maka betapa mereka dapat dipalingkan (dari menyembah-Nya)?"(Al-Ankabut 29: 61)

Ayat Al-Mu'minun 23: 84-89 menunjukkan dialog Allah dengan kaum musyrikin yang mengakui Allah sebagai pemilik bumi, Tuhan tujuh langit, dan Penguasa segalanya, yang menuntut mereka untuk mentauhidkan Allah dalam ibadah. (Al-Mu'minun 23: 84-89)

Dalil Fitrah dan Akal:
Setiap manusia dilahirkan dengan fitrah mengakui adanya pencipta. Akal manusia secara logik menuntut adanya pencipta yang agung, kerana alam semesta tidak mungkin menciptakan dirinya sendiri.

Tauhid Rububiyah merupakan dasar untuk mengakui Tauhid Uluhiyah, di mana pengakuan terhadap kekuasaan Allah (Rububiyah) sepatutnya membawa kepada perbuatan ibadah hanya kepada-Nya (Uluhiyah).

F) Tauhid Uluhiyyah
Mengesakan Allah dalam ibadah, iaitu perbuatan hamba seperti solat, doa, nazar dan sembelihan hanya ditujukan kepada Allah.

a) Dalil AlQuraan

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ

"Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan." (Al-Fatihah 1:5)

وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا

"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun." (An-Nisa 4:36)

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

"Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa." (Al-Baqarah 2:21)

فَاعْبُدِ اللّٰهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّيْنَ

"Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya."
(Az-Zumar 29:2)

Sila rujuk "Kalimat tauhid La ilaha illallah."

b) Dalil Hadis

Kewajipan beribadah hanya kepada Allah:
"Dan apabila kamu minta maka mintalah kepada Allah dan apabila kamu minta tolong maka minta tolonglah kepada Allah." (HR. Tirmidzi)

Inti Pati Tauhid Uluhiyyah:
• Mengesakan Allah dalam segala jenis ibadah.
• Fokus dakwah para Rasul (Nabi Nuh, Hud, Saleh, Syuaib, dan Muhammad ﷺ).
• Orang kafir Quraisy mengakui Allah pencipta (Rububiyyah) tetapi menolak untuk hanya menyembah Allah (Uluhiyyah).

G) Tauhid Asma wa Sifat:

Mengesakan Allah dalam nama-nama & Menetapkan sifat-sifat-Nya sesuai Al-Quran dan hadis sahih, tanpa menyerupakan (tasybih), meniadakan (ta'thil), mengubah (tahrif), atau bertanya 'bagaimana' (takyif).

"...لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ"

"...Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat." (Menetapkan sifat mendengar/melihat tanpa menyerupakan dengan makhluk). (Asy-Syura 42:11)

"Hanya milik Allah asmaul husna (nama-nama yang paling baik), maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu...".
(Al-A'raf 7:180)

"Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." (Al-Ikhlas 112:4)

Hadis Riwayat Bukhari & Muslim:
Tentang turunnya Allah ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, yang menetapkan sifat Nuzul (turun) bagi Allah sesuai keagungan-Nya.

Mengikut manhaj Salafussoleh, sifat Wajah, Tangan (Yad), dan Kaki (Qadam) bagi Allah ditetapkan sebagaimana yang terkandung dalam al-Quran dan Hadis (Sifat Khabariyyah) tanpa takyif (bertanya bagaimana), tamsil (menyerupakan), atau ta'til (menafikan).

Sifat-sifat ini difahami sebagai sifat hakiki bagi Zat Allah yang tidak sama dengan makhluk.

a) Sifat Wajah (وجه):

"Tetapi wajah Tuhan mu memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal".
(Al-Rahman 55:27)

"...tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali wajah-Nya". (Al-Qasas 28:88)

b) Sifat Tangan (يد / أيدٍ):
"...dengan apa yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku".
(Sad 38:75)

"Bahkan kedua tangan Allah terbuka". (Al-Ma'idah 5:64)

...."Tangan Allah atas tangan tangan mereka....(Al Fath 48:10)

Matan Hadits Riwayat Abu Hurairah r.a.

"يَقْبِضُ اللَّهُ الأَرْضَ، وَيَطْوِي السَّمَوَاتِ بِيَمِينِهِ، ثُمَّ يَقُولُ: أَنَا المَلِكُ، أَيْنَ مُلُوكُ الأَرْضِ"

“Allah akan menggenggam bumi dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya, kemudian berfirman: ‘Akulah Raja. Di manakah raja-raja bumi?’”
(HR. Bukhari no. 6038, 6519 dan Muslim no. 4994).

c) Sifat Kaki (قدم):
Dalil mengenai sifat "kaki" (qadam/rijl) Allah disandarkan pada hadis sahih, di mana Allah meletakkan kaki-Nya di atas neraka sehingga ia berkata "Cukup". Ulama Ahli Sunnah menetapkan sifat ini tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk, tanpa bertanya bagaimana (bila kayf), atau mentakwilnya sebagai kemurkaan.

Dalil Hadis Sahih (Kaki Allah):
Dari Anas bin Malik ra, Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Neraka senantiasa bertanya, 'Apakah masih ada tambahan?'. Hingga Rabbul 'Izzah meletakkan kaki-Nya di atasnya, maka neraka pun berkata, 'Cukup, cukup demi kemuliaan-Mu' ".(HR Bukhari dan Muslim)

Kaidah Memahami Dalil:
• Iman: Meyakini semua nama dan sifat yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya.
• Tanzih: Menyucikan Allah dari kekurangan dan keserupaan dengan makhluk.
• Taukifiyah: Tidak ada ruang untuk ijtihad akal, hanya berdasarkan dalil yakni tampa tamsil

F) Makna Syahadatain

1) Makna Syahadat “Laa ilaaha illallah ( لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ )
Yaitu beri’tikad dan berikrar bahwasanya tidak ada yang berhak disembah dan menerima ibadah kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala, menta’ati hal tersebut dan mengamalkannya. La ilaaha menafikan hak penyembahan dari selain Allah, siapa pun orangnya. Illallah adalah penetapan hak Allah semata untuk disembah.

Jadi makna kalimat ini secara ijmal (global) adalah, “Tidak ada sesembahan yang hak selain Allah”. Khabar “Laa ” harus ditaqdirkan “bi haqqi” (yang hak), tidak boleh ditaqdirkan dengan “maujud ” (ada). Karena ini menyalahi kenyataan yang ada, sebab tuhan yang disembah selain Allah banyak sekali. Hal itu akan berarti bahwa menyembah tuhan-tuhan tersebut adalah ibadah pula untuk Allah. Ini Tentu kebatilan yang nyata.

Kalimat “Laa ilaaha illallah ( لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ) ” telah ditafsiri dengan beberapa penafsiran yang batil, antara lain:

a) “Laa ilaaha illallah ( لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ) “ artinya: “Tidak ada sesembahan kecuali Allah”, Ini adalah batil, karena maknanya: Sesungguhnya setiap yang disembah, baik yang hak maupun yang batil, itu adalah Allah.

b) “Laa ilaaha illallah ( لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ) “ artinya : “Tidak ada pencipta selain Allah” . Ini adalah sebagian dari arti kalimat tersebut. Akan tetapi bukan ini yang dimaksud, karena arti ini hanya mengakui tauhid rububiyah saja, dan itu belum cukup.

c) “Laa ilaaha illallah ( لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ) “ artinya: “Tidak ada hakim (penentu hukum) selain Allah”. Ini juga sebagian dari makna kalimat ” “. Tapi bukan itu yang dimaksud, karena makna tersebut belum cukup

Semua tafsiran di atas adalah batil atau kurang. Kami peringatkan di sini karena tafsir-tafsir itu ada dalam kitab-kitab yang banyak beredar. Sedangkan tafsir yang benar menurut salaf dan para muhaqqiq (ulama peneliti), tidak ada sesembahan yang hak selain Allah) seperti tersebut di atas.

c) Makna Syahadat “Anna Muhammadan Rasulullah”
Yaitu mengakui secara lahir batin bahwa beliau adalah hamba Allah dan RasulNya yang diutus kepada manusia secara keseluruhan, serta mengamalkan konsekuensinya: menta’ati perintahnya, membenarkan ucapannya, menjauhi larangannya, dan tidak menyembah
Allah kecuali dengan apa yang disyari’atkan.

2) Rukun Syahadatain

a) Rukun ( لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ) “Laa ilaaha illallah”
Laa ilaaha illallah ( لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ) mempunyai dua rukun:

i)An-Nafyu atau peniadaan: “Laa ilaha” membatalkan syirik dengan segala bentuknya dan mewajibkan kekafiran terhadap segala apa yang disembah selain Allah.

ii) Al-Itsbat (penetapan): “illallah” menetapkan bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah dan mewajibkan pengamalan sesuai dengan konsekuensinya.

Makna dua rukun ini banyak disebut dalam ayat Al-Qur’an, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

فَمَنْ يَّكْفُرْ بِالطَّاغُوْتِ وَيُؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى لَا انْفِصَامَ لَهَا

“Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beri-man kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat …” (Al-Baqarah2 : 256)

Firman Allah, “Siapa yang ingkar kepada thaghut” itu adalah makna dari “Laa ilaha” rukun yang pertama. Sedangkan firman Allah, “dan beriman kepada Allah” adalah makna dari rukun kedua, “illallah”. Begitu pula firman Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Nabi Ibrahim alaihis salam :

اِنَّنِيْ بَرَاۤءٌ مِّمَّا تَعْبُدُوْنَۙ – اِلَّا الَّذِيْ فَطَرَنِيْ

“Sesungguhnya aku berlepas diri terhadap apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah) Tuhan yang menjadikanku …”. (Az-Zukhruf 43:26-27)

“Sesungguhnya aku berlepas diri” ini adalah makna nafyu (peniadaan) dalam rukun pertama. Sedangkan perkataan, “Tetapi (aku menyembah) Tuhan yang menjadikanku”, adalah makna itsbat (penetapan) pada rukun kedua.

b) Rukun Syahadat “Muhammad Rasulullah”
Syahadat ini juga mempunyai dua rukun, yaitu kalimat “‘abduhu wa rasuluh ” hamba dan utusanNya. Dua rukun ini menafikan ifrath (berlebih-lebihan) dan tafrith (meremehkan) pada hak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau adalah hamba dan rasulNya. Beliau adalah makhluk yang paling sempurna dalam dua sifat yang mulia ini, di sini artinya hamba yang menyembah. Maksudnya, beliau adalah manusia yang diciptakan dari bahan yang sama dengan bahan ciptaan manusia lainnya. Juga berlaku atasnya apa yang berlaku atas orang lain.

قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, …’.” (Al-Kahfi 18:110)

Beliau hanya memberikan hak ubudiyah kepada Allah dengan sebenar-benarnya, dan karenanya Allah Subhanahu wa Ta’ala memujinya:

اَلَيْسَ اللّٰهُ بِكَافٍ عَبْدَهٗۗ

“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hambaNya.”
(Az-Zumar 39: 36)

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ عَلٰى عَبْدِهِ الْكِتٰبَ

“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al-Kitab (Al-Qur’an) ...” (Al-Kahfi 18 : 1)

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

“Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hambaNya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram …” (Al-Isra 17 : 1)

Sedangkan rasul artinya, orang yang diutus kepada seluruh manusia dengan misi dakwah kepada Allah sebagai basyir (pemberi kabar gembira) dan nadzir (pemberi peringatan).

Persaksian untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan dua sifat ini meniadakan ifrath dan tafrith pada hak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena banyak orang yang mengaku umatnya lalu melebihkan haknya atau mengkultuskannya hingga mengangkatnya di atas martabat sebagai hamba hingga kepada martabat ibadah (penyembahan) untuknya selain dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka ber-istighatsah (minta pertolongan) kepada beliau, dari selain Allah.

Juga meminta kepada beliau apa yang tidak sanggup melakukannya selain Allah, seperti memenuhi hajat dan menghilangkan kesulitan. Tetapi di pihak lain sebagian orang mengingkari kerasulannya atau mengurangi haknya, sehingga ia bergantung kepada pendapat-pendapat yang menyalahi ajarannya, serta memaksakan diri dalam mena’wilkan hadits-hadits dan hukum-hukumnya.

G) Syirik:

i) Syirik ialah perbuatan menyekutukan Allah SWT dengan sesuatu yang lain dalam aspek rububiyyah, uluhiyyah, atau asma' wa sifat, sama ada melalui iktikad, perkataan, atau perbuatan. Ia adalah dosa terbesar yang tidak diampuni jika tidak bertaubat, menghapuskan amalan, dan diharamkan syurga bagi pelakunya.

ii) Larangan Syirik :
"Barangsiapa yang berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun maka ia akan masuk surga, dan barangsiapa yang berjumpa dengan Allah dalam keadaan menyekutukan Allah maka ia akan masuk neraka." (Hadis Riwayat Muslim)

Berikut adalah perincian syirik mengikut al-Quran dan As-Sunnah:

a) Definisi dan Hukum
• Definisi: Menyamakan selain Allah dengan Allah dalam perkara yang merupakan hak-Nya.
• Hukum: Syirik ialah kezaliman yang besar (QS. Luqman: 13) dan pelakunya (musyrik) kekal dalam neraka.

b) Pembahagian Syirik

• Syirik Besar (Akbar): Mengeluarkan seseorang daripada Islam, seperti menyembah berhala, meminta pertolongan jin/kubur, dan meyakini ada pencipta selain Allah.
• Syirik Kecil (Asghar): Tidak mengeluarkan daripada Islam tetapi merosakkan tauhid dan mengurangkan pahala, contohnya riyak (beramal kerana manusia).

c) Bentuk-bentuk Syirik (Al-Quran & Sunnah)

i) Syirik dalam Iktikad & Perbuatan:
• Percaya pada ramalan zodiak, nasib, atau tangkal/jimat.
• Meminta pertolongan (istighathah) kepada makhluk yang telah mati atau jin.
• Menyembelih haiwan bukan kerana Allah.

ii) Syirik dalam Ibadah (Riyak): Melakukan ibadah untuk dipuji manusia.
• Syirik dalam Perkataan: Bersumpah dengan nama selain Allah.

d) Kesan Syirik
• Dosa yang tidak diampuni Allah jika mati dalam keadaan syirik (An-Nisa 4:48).
• Menghapuskan seluruh amal kebaikan (Al-An'am: 88).

e) Cara Menghindari Syirik:

Kembali kepada ajaran Islam yang sahih, mempelajari tauhid, dan sentiasa berdoa memohon perlindungan daripada Allah seperti doa: Allahumma inni a'udzu bika an usyrika bika wa ana a'lam, wa astaghfiruka lima laa a'lam (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu daripada berbuat syirik dalam keadaan aku sedar, dan aku memohon ampun kepada-Mu daripada syirik yang tidak aku sedari).

f) Punca utama syirik:

Punca-punca Utama Syirik (Berdasarkan Wahyu):
• Berpaling daripada Jalan Rasulullah & Sahabat: Apabila seseorang meninggalkan panduan al-Quran dan Sunnah, Allah membiarkan mereka tersesat dan menganggap amalan salah (bidaah) sebagai molek.
• Kejahilan & Taklid Buta: Mengikut kata guru atau adat tanpa memastikan keabsahannya berdasarkan dalil al-Quran dan sunnah nabi.
• Mengikut Hawa Nafsu: Merasakan amalan bidaah adalah "Bidaah Hasanah" (baik) padahal ia menyalahi syariat.
• Terpedaya dengan "Kejayaan" Amalan Salah: Menganggap sesuatu amalan itu diredhai Allah semata-mata kerana amalan tersebut membuahkan hasil atau "menjadi" di dunia (contoh: selawat yang mengandungi unsur syirik), padahal itu adalah istidraj (pembiaran).

Menjauhi syirik menuntut ilmu yang sahih dan berpegang teguh pada dalil yang sabit daripada Nabi SAW.

H) Rukun Islam :

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

"Daripada Ibnu Umar RA, Rasulullah SAW bersabda: Islam dibina di atas lima perkara: Bersaksi bahawa tiada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan solat, menunaikan zakat, haji ke Baitullah, dan puasa Ramadan".

Rincian Rukun Islam

1) Syahadah: "...persaksian bahawa tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah dan bahawa Nabi Muhammad adalah utusan Allah...".

2) Solat: Allah Ta'ala berfirman, "...dan dirikanlah solat...".
3) Zakat: Allah Ta'ala berfirman, "...dan tunaikanlah zakat...".

وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَ ءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱرْكَعُوا۟ مَعَ ٱلرَّٰكِعِينَ

"Dan dirikanlah solat, keluarkanlah zakat, dan rukuklah bersama-sama orang-orang yang rukuk."(Al-Baqarah 2:43)

اَقِمِ الصَّلٰوةَ لِدُلُوْكِ الشَّمْسِ اِلٰي غَسَقِ الَّيْلِ وَقُرْاٰنَ الْفَجْرِ ؕ اِنَّ قُرْاٰنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُوْدًا

Dirikanlah olehmu sembahyang ketika gelincir matahari (Zuhur & Asar) hingga waktu gelap malam (Magrib & Isa), dan (dirikanlah) sembahyang subuh sesungguhnya sembahyang subuh itu adalah disaksikan (keistimewaannya). (Al-Isra' 17:78)

4) Puasa: Allah Ta'ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa". (Al-Baqarah 2:183)

Kewajipan Puasa Ramadhan

"...فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ..."

"...Kerana itu, sesiapa di antara kamu yang menyaksikan bulan Ramadhan (berada di bulan itu), maka hendaklah dia berpuasa...". (Al-Baqarah 2:185)

5) Haji: Allah Ta'ala berfirman:

"...dan Allah mewajibkan manusia mengerjakan haji ke Baitullah, iaitu bagi sesiapa yang mampu sampai kepadanya..." (Surah Ali 'Imran: 97).

Kefahaman salaf menekankan bahawa kelima-lima rukun ini adalah asas kukuh yang menentukan keislaman seseorang, dan meninggalkan salah satunya secara sengaja meruntuhkan binaan iman tersebut.







2: Agama Islam telah Sempurna

1) Agama Islam telah di ridahi & disempurnakan olih Allah.

Ketahuilah agama Islam itu telah sempurna sejak dari hari Arafah tanggal 9 Zulhijah Tahun 10 hijrah lagi.

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridahai Islam sebagai agama bagimu …” (Al-Maa-idah 5: 3)

Umar bin al-Khattab meriwayatkan bahawa seorang lelaki daripada kalangan Yahudi bertanya kepadanya:

يَا أَمِيرَ المُؤْمِنِينَ، آيَةٌ فِي كِتَابِكُمْ تَقْرَءُونَهَا، لَوْ عَلَيْنَا مَعْشَرَ اليَهُودِ نَزَلَتْ، لاَتَّخَذْنَا ذَلِكَ اليَوْمَ عِيدًا. قَالَ: أَيُّ آيَةٍ؟ قَالَ: {اليَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا} [المائدة: 3] قَالَ عُمَرُ: «قَدْ عَرَفْنَا ذَلِكَ اليَوْمَ، وَالمَكَانَ الَّذِي نَزَلَتْ فِيهِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهُوَ قَائِمٌ بِعَرَفَةَ يَوْمَ جُمُعَةٍ»

Maksudnya: “Wahai Amīr al-Mu’minīn, Ada satu ayat di dalam kitab kamu (al-Quran) yang kamu membacanya. Jika ia diturunkan ke atas kami sekalian bangsa Yahudi maka kami akan mengambil hari tersebut sebagai perayaan. ʻUmar bertanya: Apakah ayat itu? Dia berkata: “Aku telah sempurnakan bagi kamu ugama kamu, dan Aku telah cukupkan nikmat-Ku kepada kamu, dan Aku telah meredai Islam itu menjadi ugama untuk kamu”. ʻUmar berkata: Kami telah ketahui hari tersebut dan tempat turun ayat tersebut ke atas Nabi SAW ketika Baginda SAW berdiri di Arafah pada hari Jumaat”. (HR Bukhari (45) dan Muslim (3017)

Hari Arafah yang dimasudkan adalah pada hari Jumaat tanggal 9 Zulhijah Tahun 10 hijrah

Antara hadis yang berkaitan

إنَّهُ ليس شيءٌ يُقَرِّبُكُمْ إلى الجنةِ إلَّا قد أَمَرْتُكُمْ بهِ، وليس شيءٌ يُقَرِّبُكُمْ إلى النارِ إِلَّا قد نَهَيْتُكُمْ عنهُ.

“Sesungguhnya tiada apa yang mendekatkan kamu ke syurga melainkan aku telah memerintahkan kamu melakukannya, dan tiada apa yang mendekatkan kamu ke neraka melainkan aku telah melarang kamu daripadanya.” (Hasan. al-Sahihah oleh al-Albani, no. 2866)

Ketahui juga bahawa:

a) Al-Quran telah sempurna.
Yakni benar dalam berita, adil dalam perintah dan larangan Nya. Tidak ada yang dapat merubah AlQuran.

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا ۚ لَّا مُبَدِّلَ لِكَلِمَٰتِهِۦ ۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ

Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah rubah kalimat-kalimat-Nya dan Dialah yang Maha Mendenyar lagi Maha Mengetahui.(Al-Anam 6:115)

b) Tiada nabi setelah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam

مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَٰكِن رَّسُولَ ٱللَّهِ وَخَاتَمَ ٱلنَّبِيِّۦنَ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمًا

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.(Al-ahzab 33:40)

2) Agama Islam adalah jalan Allah yang lurus.

Ketahuilah, Allah memerintahkan kita mengikuti jalanNya yang lurus.

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِى مُسْتَقِيمًا فَٱتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِۦ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

"Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa".(Al-An’am 6:153)

Ditafsir olih hadis:

Dari Hamad, dari 'Asim, dari Abu wa'il ia berkata, Abdullah Bin Mas'ud berkata: Suatu hari Rasulullah membuat sebuah garis lurus bagi kami, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan Allah’. Dan 'Ashim meniru beliau dengan membuat garis lurus seraya berkata, ‘Ini adalah jalan Allah’.

Kemudian beliau membuat garis lain pada sisi kiri dan kanan garis tersebut, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan (yang banyak), pada setiap jalan terdapat setan yang mengajak kepada jalan itu,’ kemudian beliau membaca ayat وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ) yakni: garis yang pertama; (وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ), yakni garis-garis yang lain; (فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذلكم وصاكم به لعلكم تتقون)

[HR Imam an-Nasa'i, Imam Ahmad, Imam Ibnu Hibban, Imam Al-Hakim, Imam Hakim berkata tentang hadis ini: Sanadnya shahih namun Imam Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya. Dan Syekh al-Albani menghasankan sanadnya ]

Allah memajibkan kepada kita, bahwa Islam adalah jalan Allah yang lurus, maka tempuhlah jalan itu, janganlah menempuh jalan-jalan kesesatan yang akan mencerai-beraikan dan menjauhkan kita dari jalan Allah yang lurus. Kita hanya dapat melindungi diri dari siksaanNYa dengan melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya.



3: Manhaj Salaf (Cara beragama yang benar)

A) Pertujuk kepada jalan yang lurus

Allah Ta’ala berfirman:

قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ

Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan Kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan Kitab-Kitab yang sebelumnya lagi menunjukkan kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus” (Al-Ahqaaf: 30).

هَٰذَا هُدًى ۖ وَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِمْ لَهُمْ عَذَابٌ مِّن رِّجْزٍ أَلِيمٌ

Ini (Al Quran) adalah petunjuk. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Tuhannya bagi mereka azab yaitu siksaan yang sangat pedih.
(Al-jatsiyah 45:11)

Ayat-ayat di atas, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Al-Qur’an menunjukkan kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus

وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus” (Asy-Syuuraa 42:52).

Ayat ini menerangkan bahwa Rasulullah adalah utusan Allah yang menunjukkan kepada manusia jalan yang lurus




Hadis

اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: تَـرَكْتُ فِـيْكُمْ اَمـْرَيـْنِ لَنْ تَضِلُّـوْا مَا تَـمَسَّكْـتُمْ بِـهِمَا: كِـتَابَ اللهِ وَ سُنَّـةَ رَسُوْلـــِهِ. مالك

Rasulullah SAW pernah bersabda : “Aku telah meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang kamu tidak akan sesat selama kamu berpegang teguh kepada keduaya, yaitu : Kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya”. (HR. Malik)

Maka jalan yang lurus (Ash-Shiraath Al-Mustaqiim) yang diridhoi Allah adalah jalan yang ditujuki olih Al-Qur’an dan As-Sunnah

Namun perkara yang membuat banyak di antara aliran kaum muslimin berselisih adalah dengan metode apa mereka memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah dan cara mengamalkan keduanya.

Karena pemahaman sesaorang terhadap keduanya (AlQuran & As-Sunnah) bolih benar dan bolih pula salah, demikian juga dalam mengamalkan keduanya, bolih jadi amal sesaorang itu benar atau keliru.

Maka wajib sesaorang mengikuti pemahaman dan pengamalan agama Islam yang benar seperti yang kehendaki Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.

B) Jalan yang lurus
Allah berfirman:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

"Tunjukilah kami jalan yang lurus”.
(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”. (Al Fatihah 1: 6-7)

a) Jalan Orang2 yang telah diberi nikmat

وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّۦنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّٰلِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُو۟لَٰٓئِكَ رَفِيقًا

"Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya."
(An Nisa 4:69)

b) Bukan jalan Mereka yang dimurkai:

Orang Yahudi dan semisal mereka yang mengetahui kebenaran, namun meninggalkannya (tidak mengamalkannya).

.....مَن لَّعَنَهُ ٱللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ ٱلْقِرَدَةَ وَٱلْخَنَازِيرَ وَعَبَدَ ٱلطَّٰغُوتَ ۚ ....

yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut? (Al-Maidah 5:60)

Yahudi yang melanggar kehormatan hari sabtu; ada dijadikan Allah kera & sebagian dijadikan babi.

c) Bukan jalan Mereka yang sesat :

Orang2 Nasrani dan semisal mereka yang meninggalkan kebenaran dalam keadaan tidak berilmu dan sesat.

.....قَدْ ضَلُّوا۟ مِن قَبْلُ وَأَضَلُّوا۟ كَثِيرًا وَضَلُّوا۟ عَن سَوَآءِ ٱلسَّبِيلِ

...dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”. (Al-Maidah 5:77)

d) Jalan Orang-orang yang diridhoi Allah yakni jalan shahabat Rasulullah dan generasi pertama dari umat ini.

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya text here...

Hubungi

Sila hubungi kami untuk sebarang pertanyaan.

Email

Telefon

pesananatuk@gmail.my

© 2025. All rights reserved.